Teduh, berdiri pada akhir tahun 2007 berawal dari teater Pagupon Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM. Dari hasil kreativitas mereka terciptalah irama musik dan lirik yang menyatu membawa ketenangan pendengarnya. Anggotanya yaitu Is, Comi, Cito dan Ivan mencoba menggabungkan musik tanpa batas dengan musik Payung Teduh sendiri.
Showing posts with label Renungan. Show all posts
Showing posts with label Renungan. Show all posts
Sunday, 6 October 2013
Monday, 22 July 2013
Manusia Hilang Itu Artinya Mati
Saat manusia hilang, dan tak pernah kembali ke dunia. Itulah
pertanda manusia dalam perjalanan ke keabadian. Dan saat manusia hadir kembali
melalui mimpi itu bukanlah reinkarnasi tapi hanya bayangan sesaat yang
mengingatkan bahwa manusia tersebut pernah hidup didunia entah tahun keberapa.
Wednesday, 12 June 2013
Dua Wajah Pagi
Saya tak pernah memahami
mengapa suasana pagi bisa menjadi lebih sibuk daripada malam. Tiap pagi,
orang-orang minum kopi dan pengantar Koran mampir dari rumah ke rumah, dan
jalan mulai sibuk, bis kota sudah bertugas, tetapi segala hal yang normal di
abad ke-21 ini akan segera diletakkan terpaut dengan sesuatu yang menyebabkan
Jogja hidup: semacam budaya pop.
Label:
Ade Gusti,
Artikel,
cerita,
cerita pagi,
cerpen,
Cinta,
dua wajah pagi,
Manusia,
pagi,
Renungan
Mengapa Harus Ada Bayangan?
Mengapa harus ada bayangan?
Kadang kita sering bertanya-tanya, merasa
risih jika ada siluet hitam mengikuti kemana arah kita menghadap. Terutama saat
kita harus berpapasan dengan terik matahari. Siluet itulah yang kita namakan
sebuah bayangan.
Wednesday, 31 October 2012
Manusia Bertanya, Tuhanlah yang Menjawab
Taman. Kolam ikan dengan air mancur. Kursi-kursi
yang dipenuhi manusia-manusia bahagia. Pedagang kopi keliling sibuk melayani
pembeli dengan ramah. Anjing piaraan ber guk-guk ria me-nginthil majikannya, berlarian. Manusia-manusia bahagia tersebut
nampaknya tak sadar salah satu mereka yaitu aku, sedang tidak bahagia. Mereka
seolah membutakan mata tak melihat aku menangis dan berteriak minta
pertolongan. Mereka tak memahamiku sebagaimana mereka sebagai manusia. Mereka
menganggap aku lebih buruk dari anjing piaraan mereka. Mereka. Ya mereka itu
manusia bahagia namun tak bisa membahagiakan orang sekitarnya.
Subscribe to:
Posts (Atom)


