Showing posts with label cerpen. Show all posts
Showing posts with label cerpen. Show all posts

Saturday, 1 February 2014

Rumahku





Ijinkan saya bercerita, bercerita membuat saya lega dengan emosi saya. Saya bahkan harus berbicara dengan seekor kucing jika saya tak bisa mengontrol emosi saya sedemikian rupa. Saya begitu naif memaknakan hidup hanya untuk tersenyum dan menangis. Rupanya lebih dari itu, dan saat ini saya merasakan suasana hambar di dalam sebuah rumah, tempat tinggal keluarga besar saya.

Monday, 22 July 2013

Penari Langit



“Mengapa harus tarian langit?”
tanyaku pada sepi.

Kalau ada waktu duduk di sini atau membaringkan tubuh di kursi malas balkon kamar saat senja seperti sekarang ini, kemudian menghadapkan pandangan ke barat maka akan terlihat langit terang berparas jingga. Sinar oranye mulai meredup dan turun perlahan mengikuti irama gemerisik pepohonan tropis dari halaman kebun. Kepakan sayap ribuan burung pipit yang sibuk kembali ke sarangnya pun turut meramaikan ganasnya tarian langit. Jika lebih jeli perhatikan apa yang terkandung dalam senja sekarang ini, dan dengarkan irama-irama sendu, saksikan para dewa-dewi sedang menarikan tarian senjanya, menyambut purnama datang.

Wednesday, 12 June 2013

Dua Wajah Pagi




       Saya tak pernah memahami mengapa suasana pagi bisa menjadi lebih sibuk daripada malam. Tiap pagi, orang-orang minum kopi dan pengantar Koran mampir dari rumah ke rumah, dan jalan mulai sibuk, bis kota sudah bertugas, tetapi segala hal yang normal di abad ke-21 ini akan segera diletakkan terpaut dengan sesuatu yang menyebabkan Jogja hidup: semacam budaya pop.

Monday, 3 June 2013

Memilih Jarak - Sebuah Resolusi




Jarak itu bisa panjang bisa pendek. Pilihannya adalah tergantung kebutuhan manusia mengapa harus menciptakan jarak. Bahkan antara satu jari dengan jari lain punya jarak meski itu kecil. Tapi dengan jarak, semua hal menjadi jelas dan ada batasnya.

Wednesday, 5 December 2012

Manusia Separuh Sayap


Pada awalnya aku seperti kepakan sayap yang terbang tanpa tujuan. Ya. Semacam burung tanpa mata. Selalu ingin mencapai awan tanpa berpikir apakah ini bahaya? Apakah aku akan jatuh? Apakah aku bisa menggapai makhluk-makhluk langit? Apakah aku akan mendarat  di bulan atau mars?


Ya begitulah. Pertanyaan yang semua disejajarkan dengan nalar tak pernah seimbang dengan perasaan bagaimana aku bisa menjadi utuh sekarang. Mengapa? Karena dulu sekali sejak aku mengenal sayap, aku hanya separuh dari jiwa manusia yang punya gravitas. Selain itu aku hanya serpihan kertas terbawa angin. Melayang dan terbang. Aku tak pernah punya kendali atas diriku sendiri. 

Tuesday, 10 January 2012

Tidurlah Teman


Tidurlah teman, tidur nyenyak setelah berhari-hari kau arungi lautan hidup penuh derita. Aku ada di sisi menemanimu hingga kau terjaga pagi nanti. Membuatkan segelas susu dan setangkup roti panggang. Bukankah itu yang kau inginkan agar cepat berganti hari, agar cepat kau lupakan masalahmu.

 Dia datang ke Klinik Psikologiku di suatu pagi gerimis, tak hanya itu, wajahnya bersimbah air mata dengan hati membuncah ingin segera ditumpahkan. Dia hampir gila sebelum aku membantunya bercerita walau tertatih. Dia mengalami trauma dengan cinta, seorang pemuja pemuja cinta dan kehilangan cinta yang seharusnya ia puja. Maka setelah hari kelabu itu seorang perempuan cantik peraih cum laude di kampusnya tersebut rutin berkunjung datang ke klinik. Aku hanya mendengarkan ia bercerita tentang masa lalunya, kisah cintanya. Tak lebih.